Malang-Bromo-Solo part #2

Jalan-jalan kali ini, tidak disertai kamera!! Hebat kan sayaaaa?? Si Henry juga ga bawa kamera! jadi kami berdua emang manusia bebas, ngga diperbudak oleh kamera! hahahhahaha!!! *jangan lupa gaya pahlawan bertopeng*. Biar begitu… tak bisa lah saya ngga menjepret barang 1-2 bijih, akhirnya, kamera berkualitas berantakan dari nexian, saya manfaatkan. Emang welek sih, tapi apa mo di kata? Kata nya orang bebas, jadi ga boleh meyesal!!

Setelah Malang,  kami pindahan ke Bromo.  Ternyata…. kalau ke Bromo dari Malang, artinya saya harus lewat Wonokitri, langsung Penanjakan. Jalan nya curam, sehingga kendaraan biasanya cuma sampai Wonokitri, lalu lanjut 4WD jeep. Tapi nya…. kami pengen nginep di Cemoro Lawang 1-2 hari gituuuu. Kalau mau ke Cemoro walang, harus ke Probolinggo dulu! Tanya-tanya travel agent, banyak paket tour ke Bromo dengan rute Malang-Wonokitri-Penanjakan-Lautan pasir-Malang. Berangkat jam 1 malam, balik malang lagi jam 11 an…. Harga paket tour macam ini sekitar 300-400 rebu per orang. Si Henry ternyata ogah bangun tengah malam…. dan dia ngga merasa perlu mengejar-ngejar matahari terbit di Penanjakan!! Jadinya, selama 2 hari 2 malam di sana, kami bangun jam 8 terus! Hahahaha!! Saya sih ga masalah, dulu juga udah pernah lihat matahari terbit d penanjakan….  Trus saya coba alternatif lain, misalnya shuttle bus langsung Malang-Cemoro lawang. Tawaran pertama dari Helios transport, 500 rebu untuk 1 mobil. Kalo kita bisa dapat teman lain, tentu murah…. masalahnya, sulit cari barengan dalam waktu mepet begitu. Di tempat ke dua, Sunrise tour,  kami dapat tawaran 450 rebu se mobil….. Masih ragu-ragu, sambil duduk-duduk di Lodji restoran, hotel Pelangi yang arsitkturnya menawan, saya mulai pikir-pikir naik bus aja ke Probolinggo. Akhirnya, dengan bantuan petunjuk nomor-nomor ghaib dari buku kitab kuning yang biasa di sebut Yellow pages (pinjam di loby hotel Pelangi), saya menemukan beberapa telpon rent car, dan siap telpon sana-sini. Keluar dari loby hotel Pelangi, saya sudah bikin janji dengan  Airlangga Rent Car (0341-7056458), yang memberi tawaran terbaik : mobil avanza, harga 375 rebu!!! Berangkat jam 11 siang, cocok buat Henry, hihihi!!

Gara-gara ke Bromo pas weekend, dan Henry cukup nervous bahwa kita bakal ga kebagian kamar di Cemoro lawang, saya pun menelpon semua hotel yang terdaftar di LonelyPlanet. Semua penuh, kecuali 2, yang satu Bromo permai I, dengan tawaran 400 rebu, dan Lava Hostel seharga 300 rebu. Dengan putus asa, akhirnya kami pilih Lava hostel.  Untungnya hotel ini pake air hangat, kalo engga, saya GA BAKALAN mandi selama 2 hariiii!!! Sebenernya Lava hostel punya kamar yang murah (ya ga murah-murah amaaat) seharga 150 rebu. Kamar mandinya di luar, dan pake air dingin! Well, Sebenarnya, kalau mau cari, pasti masih ada guest house murah yang ngga terdaftar di Lonely planet.  B-fast nya Lava hostel enaaaak!! Restonya juga enak, harganya agak ngeri-ngeri, tapi ya ga pake amat.  Harga ayam goreng ama lalapan 20 rebu, harga gado-gado juga 20 rebu. Porsinya pun layak, bukan porsi priyayi, juga bukan posri kuli pelabuhan. Buffet breakfast di bandrol 25 rebu….

Secara kami ga mencari sunrise, kamu pun ngga sewa jeep. Saya dan Henry jalan kaki kesana kemari di lautan pasir, sambil ngobrol, dan mengamati struktur pasir dan bebatuan…..  Henry tertarik pada semua jenis tumbuhan, terutama bunga, jadi kami bolak balik berhenti sambil memperhatikan jenis rumput yang ada di sana…. Kalau orang lain ke Bromo cuma tahu pemandangan Bromo dari penanjakan dan kawah…. kali ini saya berjalan sampai ke balik bukit, ke tengah-tengah ladang sayur petani, mengamati jenis-jenis rumput dan sayuran  yang tumbuh di pinggir jalan…. dan main-main sama anjing penduduk lokal. Bukan main sih tepatnya… mereka berlari-lari sambil mengamati kami….. Pemandangan ke arah ladang penduduk adalah serba hijau. Bukit-bukit berjajar, kayak kura-kura warna ijo,  lagi santey di pinggir pantey. Di Bromo ini, selain program pengencangan perampingan paha, dan pengencangan bokong, bisa saya tambahkan, program penurunan lingkar pinggang!! Henry yakin bobotnya turun sekitar 1 pon . Kata saya : sama ajah!! Dan tidak ada timbangan yang bisa jadi penengah! hihihi!!

Setelah Malang, kami pun pindahan ke kota berikutnya, Solo. Saya ini emang kacau, saya pikir, ada bus atau kereta langsung dari Probolinggo ke Solo atau at least Yogya lah….. Sebenarnya, kalo emang ada, buat apa semua budget traveller berbelok ke Surabaya dulu? Jelasnya karena ngga ada kendaraan umum langsung!! Kalau dari Jawa tengah, harus ke Surabaya dulu, baru ke Probolinggo, atau Pasuruan. Kecuali… pake shuttle atau tour. Dari awal kita sudah memutuskan untuk ke Solo dengan kendaraan umum ajah. Dari Cemoro Lawang ada bemo ke Probolinggo, harganya 25 rebu. Lalu dari Probolinggo ke Surabaya naik bus, lanjut bus lagi ke Solo. Kereta Probolinggo-Surabaya cuma ada 1 kali 1 hari, jam 7 pagi… jelas bukan pilihan. Bemo nya nunggu penuh, baru berangkat, akibatnya saya menunggu sekitar 1,5-2 jam di bemo. Tapi sutra lah, ga buru-buru juga. Henry dapat teman ngomong,  guide indo di Bromo. Kalau udah begini, saya diem aja, ga mau terlibat pembicaraan…… Biar si Henry ada refreshing, ga bosen ngomong sama saya thok. Selanjutnya Henry mulai ngomong ama lelaki Jerman di belakangnya, lalu pasangan Spain dan Jerman di belakang lagi….. Lalu bemo bergerak, dan semua sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Sampai di Probolinggo, kami di drop di depan terminal Probolinggo, di depan kantor travel, dan warung. Yang mau ke Surabaya ada 4 termasuk saya, Pasangan Jerman-Spain, lalu Saya dan Henry. Guide lokal itu sudah hilang entah ke mana, katanya dia orang Mojokerto, saya pikir dia bakal ke Surabaya kayak saya, lalu lanjut ke Mojokerto….. Beberapa orang langsung menyambut kami, tanya-tanya, kami mau ke mana. Belakangan saya tahu, mereka calo. Pertama mereka mengira saya Thailand (penurunan, biasanya saya Jepang loooh!!) Begitu tahu kalo kami mau ke Surabaya, mereka bilang bisa menunggu bis di situ aja. Pertama-tama saya ngga mikir apa-apa, sekedar menunggu aja…. Ga lama berselang, cewek Jerman itu pergi cari makanan, cowoknya menunggu. Henry numpang ke WC di warung. Setelah 10 menit, saya mulai tanya-tanya, apa bus nya ga masuk terminal? Calo 1 bilang engga, plus meyakinkan kalo bentar lagi bus ke Surabaya akan datang…… Tiba-tiba si calo 1 megajak saya menjauh dari rombongan, dan bilang dia punya bus express ke Surabaya, dia minta 40 rebu buat bule-bule, dan 30 rebu buat saya. Saya bilang engga usah, Surabaya cuma 2,5 jam dari Probolinggo, ngapain express segala. Henry balik dari toilet dengan informasi kalu travel agent di belakang itu punya shuttle bus ke Solo, berangkat jam 7 malam. Kami berdua setuju kalo kami bakal lebih cepat sampai Solo dengan bus biasa…… apa lagi kalo harus pake “menggelandang” dulu di Probolinggo sampai jam 7 malam!  Saya mulai curiga…. lalu saya tanya-tanya bapak-bapak yang kayaknya ojeg, di mana cari bus ke Surabaya? Dia bilang…. di depan, alias geser sekitar 100 meter dari tempat kami. Karena, kami menunggu di depan PINTU MASUK terminal, sementara bus nya keluar dari PINTU KELUAR yang lain, dan langsung menuju arah barat, TIDAK melewati tempat kami berdiri!!!! Saya mau langsung pindah, tapi cewek Jerman itu belom balik, akhirnya saya menyeberang jalan, dan tanya pada ibu-ibu empunya warung di pintu masuk terminal.  Saya jawaban yang sama dengan sebelumnya. Djeeeeng!!! Djeng!!! Saya BeTe!!!! Calo-calo sial itu harusnya jangan segitu BEGO nya, masak nepu orang lokal??  Keluar dari warung, saya lihat cewek jerman itu, langsung saya ajak pindah.  Selamat tinggal calo SIAL!! Dia pasti pengen kita putus asa, soal nya bus Surabaya ga muncul-muncul, lalu mereka bisa jadi hero dengan angkutan seharga 40 rebu per orang?? SIAL!!!!

Setelah pindah lokasi, sekitar 10 menit kemudia bus PATAS ke Surabaya nyamperin kami…. Semula kami mo naik ekonomi ajah. Tapi kondekturnya merayu-rayu, harga nya 23 rebu per orang, akhirnya kamipun naik bus itu ke Surabaya……

Advertisements
Leave a comment

3 Comments

  1. lelycitra

     /  12/09/2010

    kalo di Malang, enaknya nyarap pake… eits, bukan pecel. tapi rawon, hohoho…

    Reply
    • @ Bukan nya enak kan pecel? misalnya teh famous pecel kawi?? tapi gara2 temen ku alergi kacang, aku ga bisa makan pecel kawi yang rempeyek nya aduhay ituuuu!!!!

      Reply
      • indeed pecel, tapi gw nulis rawon karena lagi ngidam rawon, hahaha… banyak kok pecel yang enak. personally, gw lebih suka pecel dkt rumah gw drpd pecel kawi :9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: