Bohong…..bohong… bohong….

Belakangan ini ada yang rame di TV. Lumayan…..selingan, kan kita mulai bosan ama berita Gayus meluluuuu… Iya, ini perkara bo’ong-bo’ong an. Cerita nya beberapa perwakilan agama yang di akui di Indonesia, membuat semacam pertemuan, dan mendeklarasikan hasilnya, di depan media. Isi deklarasi nya ada lah….. seperti yang sudah kita semua tahu. Pemerintah sudah berbohong kepada rakyat. Point kebohongan nya ada 18, terdiri dari 9 kebohongan lama, dan 9 kebohongan baru. Trus…… yang merasa di tuduh bo’ong naik darah….

langsung bikin konverensi pers……

trus, katanya mau bikin pertemuan sama para tokoh ini…..

Tanggapan bermacam-macam muncul di media. Ada yang bilang, kesian tokoh-tokoh agama itu, di peralat oleh politik, oleh musuh-musuh pemerintah, oleh LSM…. Padahal, harus nya tokoh-tokoh agama itu diam aja di rumah ibadah masing-masing, udaaaahh… berdoa aja siang malem, ga usah ikut-ikutan masalah keduaniawian *baca: masalah politik* Menurut para tokoh agama –yang kok ya kebetulan beberapa main politik juga, bahkan ada yang sempet men-capres-kan diri, sehingga tuduhan “mempolitisir” tokoh agama ini jadi rada-rada masyuk akal– mereka lah, yang minta data ke LSM, untuk meyakinkan hipotesa mereka. Bukan nya para LSM yang nyorong-nyorongin data….

Hebat ya, media…. Ini semua bisa jadi heboh bin rame, gara-gara media. Coba jaman pak Harto dulu, ga bakal bisa kejadian kek gini. Dipikir ada media yang bakal meliput pertemuan para tokoh agama ini?? Jangan  ngomong soal  soal subtansi deklarasi nya dulu….. secara kita tahu gimana pak Harto yang anti kritik dan super duper sensi kek perempuan PMS 35 tahun berturut-turut…. Tapi yang jelas, dulu-dulu ga gampang mendatangkan media, untuk meliput sesuatu. Lah sekarang, sekedar kompetisi gundu (kelereng booow!!) di RT di pojokan Jakarta aja…. bisa msuk tipi!! Lah, gimana, secara dulu adanya juga cuma Teve er i, untuk meliput seluruh Indonesia raya yang gedhe nya minta ampun ini…. makanya, ga heran kalo beritanya antara Jakarta-Jawa-Jakarta aja, ga mampu ke mana-mana. Sekarang, yang namanya tipi banyak banget, belum ngomong soal media cetak, yang juga banyak ber-arakan kek sampah di kali nJagir. Jadilah, soal bo’ong-bo’ong an ini “rame” di media.

Ok, stop ngelantur nya. Balik ke masalah Or-Bo (pinjem istilah Sentilun : Orde Bo’ong)….. Gimana dengan pendapat saya sendiri?? Saya males menganalisa….. emang e saya Sentilun?? Saya cuma mau bilang : kek nya cara pandang pemerintah kita, beda ama cara pandang para tokoh itu…. See…. saya netral khaaan…. saya ga mihak yang mana pun. Semua bener… soalnya semua sama-sama ngomong dari hasil riset. Kalo pemerintah pake riset nya sendiri, u know…. kirain kenapa pemerintah kita punya banyak banget mentri, aneka macam Satgas, Team-team, Komisi ini itu…. mereka pada sibuk nge-riset!!!! Bukan nge-reset otak masing-masing kan ya?? Secara sering-sering nya orang yang berdedikasi tinggi dan bekerja baik, mendadak jadi aneh bin agaib setelah bergabung dalam squad pemerintahan…. Trus, para tokoh agama pake riset LSM.

Semua riset bener sih…. kata saya. Tiap pagi saya buka koran, biarpun bukan koran bisnis, ada sih, selembar dua lembar  halaman bisnis…. Sering ini yang saya baca : Penjualan mobil Toyota meningakat, artinya peningkatan ekonomi Indonesia.   Penjualan Yamaha meningkat drastis, daya beli masyarakat meningkat. Peningkatan penjualan alat elektronik, indikasi pertumbuhan ekonomi…. Dan sebagai nyaaaa… Menurut loh…. kalo omzet  pecel bu Rustin depan pasar meningkat, apa grafik perekonomian nasional bisa bergerak?? Misalnya, pelanggan jahitan dokter jeans meningkat drastis, bisa ngga mengatrol tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia?? Nenek-nenek salto sambil makan alpukat juga tahu, kalo yang bisa mengerek grafik pertumbuhan ekonomi nasional hanyalah bisnis yang beromzet milliaran sebulan, misalnya…… importir kendaraan bermotor!! Jadi, ga heran, kalo pemerintah bilang perekonomian meningkat, emang iya. Tapi, tokoh agama juga ga salah, kalo mereka melihat peningkatan jumlah rumah kumuh di bantaran kali….. Secara, kemakmuran di Indonesia ini ngga merata sama sekali, grafik bisa saja menunjukan angka-angka terukur yang tampak menanjak dengan indah nya….. Masalah nya, grafik ngga mencatat pertumbuhan penjualan bubur sumsum di pasar…..

See, soal bo’ong ngga bo’ong….. itu cuma masalah dari sudut pandang ajaaaa…….

Advertisements
Leave a comment

4 Comments

  1. Hiyaah, Soe ngomongin politik.
    Bukannya mau sinis, tapi saya rasa dipolitisasi atau tidak, tokoh agama ini mau bersuara karena mereka merasa ada dorongan tertentu dan peduliterhadap bangsa ini. Kalau kita ngomongin riset dan statistik, itu hanya masalah angka. Kuantitas. Tapi kualitas tidak bisa diukur dengan angka, diagram maupun tabel.

    Okelah, mungkin itu perbedaan persepsi mereka dalam mengukur keberhasilan pembangunan. Yang satu melihat dari segi kuantitas, tapi yang lain ingin melihat dari segi kualitas. Masalahnya adalah, sikap defensif pemerintah yang selalu membalas dengan statistik ketika ditanyai soal kualitatif.

    Misalnya dikatakan pemerintah gagal soal menangani masyarakat miskin. Mereka kekeh mengatakan bahwa secara stat perekonomian meningkat. Tapi kualitas hidup mereka gimana? Dengan pendapatan yang meningkat VS biaya hidup yang meningkat pula, kehidupan macam apa yang rakyat miskin dapatkan.

    menurut dosen saya dulu, ada 3 macam kebohongan. yang paling parah ya membuat kebohongan terencana, seperti si gayus itu jelas contohnya. Kebohongan kedua parah adalah menutupi sebagian cerita sehingga mendistorsi cerita sebenarnya. Kebohongan yang ketiga adalah mengalihkan ke hal-hal lain, yaitu seperti apa yang dilakukan pemerintah. Ditanya soal kualitas kok jawabannya statistik melulu. Dialihkan lagi ke masalah politisasi. Dialihkan lagi ke masalah LSM. Jawab dulu dengan tindakan, itu kalau mau jujur dan tidak dibilang tukang bohong

    Reply
    • iya nih… jd ngomongin politik…. dah, ga usah dalem2, ntar jd penyakit! hahahha!!
      Sebenernya, saya melihat pemerintah ini kayak marketing handal. Marketing kan ga boleh bo’ong, tapi BOLEH meng-highlight bagian-bagian produk,yang jadi point of selling, dan menghindari (bkn. menyembunyikan) ngomongin hal-hal yang “kurang” dari produk tersebut. Kayak iklan provider murah itu lhooo…
      Gratis telpon blah blah blah…….(tereak-tereak) emang bener GRATIS, ga bo’ong!! Tapi syaratnya….. (bisik-bisik, kalo ga di tanya orang, juga ga bakalan di beber langsung)
      Bagian gak asyik nya, pas pemerintah di minta penjelasan lbh lanjut, eeeh… malah ngeles-ngeles…. Ngga bisa membeberkan data secara fair. Yang paling menyakitan, pemerintah justru menuding orang-orang yang bertanya ini sebagai perusak citra, pembohong, mengada-ada, dan perlu di beri pelajaran!
      Lama-lama pemerintah kita nih balik ke Or-ba, ga bisa terima kritik, bisa nya nyolot aja.
      hmmm….hh semoga engga deh….

      Reply
      • jadiii… mendingan or-ba atau or-bo?

      • Sebenernya sama-sama pembohong sih…. MungkinOR-Ba itu perlu di ganti Or-Bu (Orde Busuk) Mungkin kalo kepaksa bgt, saya milih Or-Bo ajah…..soalnya belum akut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: