BBM naik, Listrik naik, So What Geto Loh??

Beberapa minggu ini Indonesia goncang dooong, akibat dari ibu mentri yang merokok…. Eh, engga juga. Itu goncang nya dikit aja. Goncang yang paling heboh akhir-akhir ini adalah akibat subsidi BBM di kurangi, trus lanjut dengan subsidi listrik yang bakal dikurangi per Januari 2015. Apa akibat dari subsidi pemerintah dikurangin? Ya….. tentu nya porsi yang harus d bayar rakyat, meningkat. Bahasa keren nya -harga naik.

Langsung….. Isi nya timeline FB itu ya….. kalo ngga berita orang halusinasi, mengira diri nya Gubernur Jakarta, ya…… perkara kenaikan BBM dan Tarif listrik ini. Orang Indonesia sekarang ini ahli banget ber opini! Lihat deh komen nya, justru jauh lebih asyik dari pada baca berita nya! Wkwkwkwkw.

Setelah ga pernah berlatih beropini selama bepuluh-puluh tahun, ternyata…… itu sama sekali ngga bikin orang Indo jadi kehilangan kemampuan beropini! Bukti nya, sekarang, orang-orang lihai banget beropini. Baru baca judul berita aja, langsung opini sepanjang 2 paragraf meluncur. Ada sih, yang opini nya pendek, biasanya cuma 5-6 kata, pake caps lock semua…… Sementara itu, orang-orang yang lebih berkelas, yang bisa pegang data, juga beropini. Lahir lah pengamat ini dan pengamat itu, ahli ini ahli itu, pemerhati, dll, you name it lah…… Entah sejak kapan spesies ini tumbuh di Indonesia. Rasanya baru kemarin kita boleh beropini, kok “para ahli opini” kok sudah muncul? Banyak pulak??

Anyway…..balik ke masalah harga naik…… Saya mengerti, kalau harga BBM naik, macam-macam harga bakal naik. Kenapa? Soalnya, sangking bagus nya distribusi barang di Indonesia ini, kalau kirim sayur tuh antar kota tuh hanya butuh beberapa jam saja. Kalau antar pulau, agak lama, maksimal 12 jam saja! Hm……. sarkastik deh…… Kenyataannya, di pulau Jawa yang paling “modern” dibanding pulau-pulau lain di Indonesia, mengangkut sayur dari desa ke kota itu…… takes so much efforts and time! Orang saya naik bus dari Banyuwangi ke Surabaya (295 km) aja 8 jam!  Menurut google, 4 1/2 jam ga pake macet. U wish!! Kenapa? Ya iya laaaaahh…. jalur pantura tercinta itu cuma 4 jalur kaleeeee….. Truk, bus, mobil pribadi, sepeda motor, semua tumplek blek di situ. Gimana ga macet? Orang-rang juga makin ogah pake bus, semua pake mobil pribadi, atau at least rental.

Sekarang, kalau saya disuruh memilih :

1. Uang negara dipake buat mensubsidi harga BBM, biar harga distribusi barang ngga memberatkan konsumen (dalam hal ini, rakyat).

2. Uang negara dipake buat mbangun jalan, biar distribusi menjadi lebih lancar, sehingga biaya distribusi ngga memberatkan konsumen (dalam hal ini, rakyat).

Saya pilih yang ke 2. Yap, saya pilih subsidi BBM dikurangi. Hasil akhir nya sama, yaitu ongkos distribusi jadi lebih kecil, tapi……. kalo duit nya buat mbangun jalan, jalan nya akan tetap di sana sampe beberapa puluh tahun lagi, bisa dipake anak cucu kita,  kecuali ada perusahaan tambang iseng yang menggenanginya dengan lumpur. Tapi…. kalau di pakai untuk subsisi BBM, bakalan meninggalkan apa? Kecuali jejak gas karbon monoksida di semesta, yang bakal meracuni anak cucu kita?? Argumen saya ini pasti nya naif buangeeeettt….. Para ahli yang mendukung subsidi BBM, baik ahli beneran maupun ahli komen FB, bakal membantai opini saya habis-habisan. Tapi, buat saya…… “so what?” Ini kedengaran jauh lebih logis bagi saya, saat ini.

Teringat pepatah klasik yang mungkin sudah dilupakan, secara…… anak jaman sekarang belajar nya sejarah Napoleon dikalahkan oleh Inggris,  ikut “standard Cambridge”, gituuuuu….. OK, saya bicara soal pepatah “Besar pasak daripada tiang”. Menurut saya, pepatah muncul karena fenomena dalam masyarakat. Alias….. emang ada tuh, perilaku “besar pasak dari pada tiang” dalam masyarakat Indonesia. Terbukti kan….. orang Indonesia bisa beli mobil, bisa beli motor bagus, tapi ga mampu beli bensin?? Sehingga bensin harus “dibayarin” pemerintah? Apa ngga itu nama nya besar pasak dari pada tiang?

Secara managerial, Indonesia juga….. menganut besar pasak daripada tiang. Kalo engga, dari mana datang nya hutang luar negeri yang nol nya buanyak banget itu?

Tahun 2015 tarif listrik bakal naik. Secara pelayanan, PLN tuh terkenal kacau nya…… Ga heran kalau konsumen jadi sensi soal harga. Menurut pakar marketing Hermawan Kertajaya, service tuh harus bagus. Dengan service bagus, orang jadi ga sensi-sensi amat sama harga. Kayak nya petinggi BUMN nih ga pernah kenal Hermawan Kertajaya deh.

Listrik rumah saya 2200, pasti nya terkena kenaikan harga. Bagi saya…. kalau tarif listrik naik, ya…… ngirit listrik lah. Mau apa? Demo di jalan? Atau beropini di FB pake caps lock semua?? Ga berguna kayak nya. Yang paling berguna adalah mengecilkan pasak, biar proporsional ama tiang. Atau…… perbesar tiang nya!! Ada lho, teman “kontraktor” alias hidup dari kontrakan satu ke kontrakan lain, yang pasang AC! Apa ga beneran pasak segedhe alu, tiang segedhe tusuk gigi? OK…. itu lebay….. Intinya ga proporsional lah, pengeluaran dan pemasukan nya.

Anyway….. semua kembali ke prioritas. Ngga semua keinginan harus dipenuhi kan? Dulu, waktu kuliah desain, beberapa teman memandangi “peralatan perang” saya yang termasuk bagus, dengan tatapan yang….. entahlah. Ada yang terang-terangan bilang kalau saya punya fasilitas bagus…… ironis nya, yang ngomong itu naik mobil ke kampus. Sementara, motor saya pajak nya per tahun cuma 40 rebu! Tiang saya ga gede….. terpaksa pasak nya saya kecilkan…… prioritas harus disususun ulang…… Begitulah.

 

 

 

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. Eh tumben aku setuju sama kamu Soe, hehe…
    Ikutan ngomporin ya…. Subsidi BBM itu sebenarnya cuma ilusi, dan suatu saat akan atau harus berakhir, karena seperti kamu bilang, itu akan bikin tiang negara (baca:keuangan) akan semakin kecil.
    Tak pameri ya, di Jerman gak pernah ada subsidi BBM, jadi harga BBM berubah setiap hari, bahkan tiap menit, dan gak ada tuh yang mengeluh (iya lah karena mereka gak pernah ngerasa enaknya di subsidi, gimana mau ngeluh). Akibatnya ya kami hudup seperti fantasimu diatas, yaitu punya jalan bagus dan lebar, tidak macet, dan bisa menghirup udara bersih tiap hari. Karena BBM mahal jadi banyak orang milih naik kendaraan umum (kendaraan umum disini cakep-cakep lho…)

    Reply
    • jadiiiii…. selama ini kamu ga pernah setujuh ma akuh?? Awas yaaaa!! 😀
      Yeah…. tinggal di Indonesia, aku ni merasa kayak pemimpi yang ga realistik 😦

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: